Senin, 28 Oktober 2013

MANAJEMEN KONSTRUKSI DALAM SUATU PAPARAN GURU BESAR



Prof. Puti Farida Marzuki (Kelompok Keilmuan Manajemen dan Rekayasa Kontruksi FTSL ITB) dalam Pidato Ilmiah Guru Besar ITB pada 13/04/2013 yang lalu  di Balai Pertemuan Ilmiah ITB memaparkan wawasannya tentang Manajemen Konstruksi (MK). Berikut ini adalah butir-butir catatan dari pidato pengukuhan Fida. Manajemen konstruksi merupakan bagian dari keilmuan teknik sipil yang fokus pada tata-kelola proyek konstruksi untuk mewujudkan konsep dan desain  teknis, yang dihasilkan oleh bagian lain dari keilmuan teknik sipil. Manajemen konstruksi bertujuan menyelesaikan pembangunan fasilitas fisik atau infrastruktur yang sangat diperlukan bagi kehidupan manusia.

Tata-kelola proyek konstruksi berkembang menjadi semakin kompleks karena semakin banyak pihak yang berinteraksi di dalamnya, serta semakin tingginya tuntutan terhadap kualitas, waktu, biaya dan aspek hukum pada  fungsi, kenyamanan, keamanan, estetika, dan keberlanjutan. Semakin besar pula tanggungjawab manajemen konstruksi untuk menjamin efisiensi dan produktivitas suatu proyek konstruksi dalam memenuhi berbagai harapan dan persyaratan yang ditetapkan.  

Indonesia  yang sedang berkembang mengandalkan pengembangan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pengembangan infrastruktur yang terkelola dengan baik juga memungkinkan masyarakat memperoleh kehidupan yang berkualitas serta memiliki interaksi sosial yang baik. Aktivitas pengembangan infrastruktur juga diharapkan menyerap tenaga kerja secara signifikan, sehingga dapat mengurangi tingginya tingkat pengangguran.


Dalam pidatonya, Fida menjelaskan terdapat tiga pihak utama yang terlibat di dalam proyek konstruksi, yaitu pemilik (owner), desainer, dan kontraktor konstruksi. Masing-masing pihak memiliki peran yang harus dilaksanakan di dalam berbagai tahap daur hidup proyek. Proyek itu sendiri terdiri dari tiga komponen, yaitu ruang lingkup teknis dan administratif, anggaran, dan jadwal. Daur hidup suatu proyek konstruksi dimulai dengan adanya kebutuhan akan suatu fasilitas baru. Kesadaran akan adanya kebutuhan ini harus diikuti dengan perencanaan dalam skala yang luas. Elemen- elemen dalam skala tersebut meliputi analisis konseptual, studi kelayakan teknis dan ekonomis, serta analisis dampak lingkungan.

Kualitas di dalam bidang konstruksi lebih sulit didefinisikan dibandingkan dengan industri manufaktur. Produk konstruksi biasanya merupakan unit yang tidak repetitif namun merupakan suatu hasil kerja yang unik dengan karakteristik yang spesifik, merujuk pada trilogi konstruksi yang meliputi ruang lingkup teknis dan administratif, anggaran, dan jadwal proyek. Hal tersebut merupakan tiga hal utama yang berinteraksi  dalam menghasilkan fasilitas terbangun yang berkualitas. Manajemen untuk mencapai konstruksi yang berkualitas sejauh ini dilakukan melalui pendekatan sistem dan pendekatan proses.

Usaha untuk menghasilkan fasilitas terbangun berkualitas melalui keseluruhan proses proyek konstruksi di setiap lini dan tahapan bertumpu kepada kekuatan hubungan antara customer dan supplier. Customer yang adalah proses berikut di dalam suatu proyek konstruksi memerlukan keyakinan bahwa supplier  yaitu proses pendahulunya mampu  memenuhi persyaratan kualitas,  biaya,  dan delivery. Sebaliknya, untuk menghasilkan proyek konstruksi yang berkualitas, supplier perlu memiliki kapabilitas untuk mengidentifikasi ekspektasi customers mereka dan stakeholders lainnya, memenuhi kebutuhan dan ekspektasi customers di dalam produk dan jasa yang dihasilkan, memasok produk dan jasa yang memenuhi persyaratan dari customers beserta manfaat yang diharapkan, dan beroperasi sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan seluruh stakeholders.

Melalui Total Quality Management (TQM) yang saat ini mulai banyak diterapkan oleh perusahaan konstruksi, customer merupakan pihak utama yang menentukan kualitas konstruksi yang dapat diterima. Dalam konsep ini, kualitas dapat  diukur dan dihasilkan melalui pemberdayaan tenaga kerja untuk melaksanakan pekerjaan yang benar dengan cara yang benar. Selanjutnya proses kerja harus diperbaiki secara kontinu dan sepanjang waktu.

Di dalam proyek konstruksi ketiga target kinerja utama yaitu biaya, waktu, dan kualitas sangat mungkin menghadapi risiko dan ketidakpastian, terutama karena perubahan merupakan suatu hal yang inheren dalam hal ini. Risiko tipikal di dalam proyek konstruksi dapat bersumber dari kondisi fisik, permasalahan konstruksi, desain, dan teknologi.

Pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk memperbaiki kualitas kehidupan manusia dan pertumbuhan ekonomi harus meminimalisir dampak lingkungan. Kesadaran ini telah mendorong perkembangan signifikan konsep konstruksi berkelanjutan (sustainable construction) selama 10 tahun belakangan. Salah satu bagian dari konsep konstruksi berkelanjutan adalah mengurangi emisi CO2 yang berasal dari proses konstruksi. Emisi CO2 yang diperhitungkan adalah yang berasal dari proses yang langsung yaitu kegiatan konstruksi itu sendiri dan proses tidak langsung yaitu berasal dari berbagai macam material yang digunakan pada bangunan.

Tantangan manajemen konstruksi di dalam proyek pembangungan infrastruktur yang berkualitas di Indonesia tidaklah ringan. Untuk itu, Fida masih terus melakukan beberapa penelitian di Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Kontruksi untuk mewujudkan fasilitas terbangun bangsa, seperti yang diidamkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar